BLENDED LEARNING PEMBELAJARAN IDEAL PILIHAN SMK

(Nita Solina, S.Pd. – Bahasa Indonesia)

Sejak diterbitkan Surat Edaran Kemdikbud Nomor 15 Tahun 2020 tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar dari Rumah dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19, pembelajaran dilakukan secara jarak jauh (PJJ), baik daring maupun luring. Kondisi darurat Covid-19 berdampak pada proses pembelajaran untuk sementara tidak lagi dilakukan secara tatap muka walaupun saat ini ada beberapa sekolah yang sudah melakukan tatap muka dengan tetap memerhatikan protokol kesehatan Covid-19 termasuk SMK Negeri 1 Kota Sukabumi. Untuk mendukung program pemerintah dalam menekan laju penyebaran wabah Covid-19 serta memenuhi hak peserta didik untuk mendapatkan layanan pendidikan selama darurat Covid-19, maka SMK Negeri 1 Kota Sukabumi telah menyiapkan pembelajaran secara daring maupun luring dengan model blended learning.

Blended learning adalah model pembelajaran yang memadukan pembelajaran daring (menggunakan jaringan internet) dengan pembelajaran luring (tidak menggunakan jaringan internet/secara tatap muka). Blended learning ini dapat dilakukan dengan cara menggunakan aplikasi untuk pembelajaran, menghadirkan interaksi dengan guru secara luring/daring, serta menerapkan sesi sinkronus, yaitu guru dan peserta didik berinteraksi secara virtual/video conference dengan jaringan internet dan sesi asinkronus, yaitu guru dan peserta didik tidak berinteraksi secara virtual sehingga peserta didik dapat melakukan tugas secara mandiri dengan pilihan waktu yang fleksibel. Agar lebih jelas, silakan membaca infografik berikut.

Sumber: gurubelajar.simpkb.id.

Blended learning ini memiliki beragam model. Adapun model yang digunakan SMK Negeri 1 Kota Sukabumi dalam mengatasi KBM di masa pandemi ini adalah model Enriched-Virtual. Model ini dipilih dengan tujuan menjaga kesehatan pendidik dan peserta didik saat pendemi agar tujuan kurikulum tetap tercapai walaupun tidak semaksimal saat keadaan normal dan pelaksanaan kelas konvensional. Proses pembelajaran dengan ragam model Enriched-Virtual dibagi menjadi dua sesi, yaitu pembelajaran tatap muka dan pembelajaran secara daring, baik untuk kelas X, XI, XII, XIII seluruh kompetensi keahlian. Kegiatan pembelajaran tidak dilakukan setiap hari, melainkan minggu pertama secara tatap muka diisi oleh kelas X, untuk pertemuan minggu selanjutnya peserta didik dipersilahkan untuk dapat belajar secara online melalui aplikasi yang telah dirancang sekolah. Mata pelajaran yang diajarkan adalah mapel C2 dan C3 (Kejuruan) dengan alasan mapel tersebut membutuhkan kemampuan atau kompetensi yang belum bisa digantikan apabila dilaksanakan secara daring. Proses pembelajaran maksimal 4 jam dengan pemberian materi yang utuh tentang jurusan masing-masing dengan jumlah peserta didik hanya 50% dari jumlah peserta didik di kelas. Setelah kelas X melaksanakan tatap muka pada minggu pertama, minggu selanjutnya kelas XI yang melaksanakan tatap muka. Pola bergilir ini berlaku sama pada kelas XII dan XIII.

Ragam platform atau aplikasi yang dapat digunakan untuk mendukung model pembelajaran blended learning di sekolah, baik sinkronus maupun asinkronus adalah pertama, Google Classroom dan Edmodo merupakan sesi asinkronus yang digunakan guru untuk berkomunikasi dengan peserta didik dan orang tua peserta didik, memonitor aktivitas pembelajaran online, mengunggah materi pembelajaran, membuat kuis, latihan, atau ujian dengan pilihan waktu yang fleksibel. Kedua, Google Meet dan Zoom merupakan sesi sinkronus yang digunakan guru untuk terhubung dengan peserta didik secara virtual melalui video conference dengan waktu yang telah disepakati dan pengiriman pesan yang aman agar pembelajaran tetap berlangsung meskipun di luar sekolah. Ketiga, Whatsapp merupakan sesi asinkronus yang digunakan membuat forum diskusi secara online guna meningkatkan kemampuan komunikasi dan keterlibatan peserta didik dalam suatu topik diskusi. Keempat, Office 365 merupakan sesi asinkronus yang digunakan peserta didik dalam mengakses materi pembelajaran di manapun dan kapanpun, dapat menggunakan file secara bersamaan, dapat membuat dokumen secara online, dan berdiskusi baik dengan pesan maupun bertatap muka langsung.

Adapun tantangan yang dihadapi dari penerapan model ini adalah saat pembelajaran online, peserta didik tidak memiliki kuota, tidak memiliki gawai, koneksi internet di tempat peserta didik tinggal tidak maksimal.

Pembelajaran jarak jauh membuat kita mengerti bahwa proses belajar tidak dapat sepenuhnya dikendalikan oleh guru. Oleh karena itu, guru perlu merancang pembelajaran jarak jauh yang bermakna. Bermakna dalam artian relevan secara konteks dan konten dengan kehidupan peserta didik. Pandemi Covid-19 telah membukakan cara pandang dan kebiasaan baru mengenai proses pembelajaran yang idealnya melibatkan guru, peserta didik, dan orangtua. Perubahan situasi dari pembelajaran yang selama ini lebih berfokus pada peran guru, sekarang mulai beralih pada situasi dimana orang tua dan guru saling berbagi peran dalam memfasilitasi pembelajaran peserta didik.. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *